Sering dalam hidup ini mengalami hal yang menyebabkan diri kecewa dengan apa yang kita terima. Luapan kecewa ini berbagai macam, mulai dari hal yang dinilai biasa saja sampai pada hal yang berdampak besar bagi kehidupannya sendiri bahkan juga tidak jarang dapat berdampak pada orang lain juga. Seiring dengan berjalanan waktu, pertanyaan mendasar saat diri ini mengalami kekecewaan, ada pertanyaan yang patut ditanyakan dalam diri ini. Saat kecewa muncul pada diri ini, benarkah itu merupakan sikap yang benar dan patut untuk dimiliki dalam pribadi kita? Ada sebuah kaidah yang perlu kita jadikan pegangan dalam hidup ini, apabila kecewa yang kita alami ini terus menjadikan diri ini lebih baik dan justru menjadikan jalan lompatan kehidupan yang dasyat kearah kesuksesan, maka kecewa ini akan bagus, tetapi kemudian ketika kecewa ini menambah kita jadi terpuruk dan menambah permasalahan, pertanyaan lagi kemudian muncul, apa untungnya saya kecewa

Berapa kali dikecewakan manusia? 
Berapa kali jiwa yang kau cinta namun ternyata justru menghianatimu? 
Berapa kali orang yang kau percaya justru hanya seorang perekayasa cinta?
Lalu karena kekecewaanmu itu, kau ceritakan pada mereka yang sama kecewanya padamu, sehingga menjadi "kumpulan orang yang kecewa". Padahal, bisa jadi "bahkan" dengan kumpulan orang yang pernah merasakan kecewapun kau akan kecewa juga.

yang kecewa itu yang sakit hatinya
yang kecewa itu yang salah niatnya

bagaimana mungkin, penyakit hati yang dirasakannya harus orang lain yang menanggungnya
bagaimana mungkin imannya yang compang camping, lalu menyalahkan iman orang lain

Saat kecewa...
Periksa niat, jangan-jangan ia tergelincir..
Saat kecewa...
Periksa amalan, jangan-jangan ia hanyalah kumpulan kata bukan aksi nyata
Saat, kecewa..
Periksa hati, jangan-jangan ia salah sandaran
Saat kecewa...
Periksa kemampuan, jangan-jangan tak mampu menjadi pemain dalam perjalanan panjang ini
Saat kecewa...
Periksa nyali, jangan-jangan ia menciut saat melihat tantangan
yang terpenting...
Saat kecewa...
Koreksi baik-baik ibadah yang dilakukan, jangan-jangan hanya untuk dijadikan tontonan..
Adalah sebuah kegilaan seseorang yang ingin menampakan ibadahnya pada manusia, bagaimana mungkin dia menginginkan penerimaan disis Allah.
Jika ingin tegar, yakinkan lah. Bicaralah baik-baik dengan hatimu, ingat-ingat kembali episode hidupmu. Hitung jiwa-jiwa yang lalu lalang dikehidupanmu, yang datang atas nama cinta lalu pergi begitu saja.
Lalu perhatikan....
Jiwa yang mencintaimu ditiap perubahan waktu, tak slalu sama. Slalu ada pergantian, di tiap tempat yang kau kunjungi & waktu yang kau datangi. Karena esensinya bukan pada jiwa-jiwa yang mencintaimu itu. Melainkan pada peletak rasa cinta itu. Allah.
Lihatlah, betapa banyak cinta yang dititpkanNya pada jiwa yang tak sama.
Jika kau lelah, istirahatlah..Bersandar adukan kelelahanmu padaNya saja..
Jika kau kecewa pada manusia, jadikan ia pelajaran. Bahwa, Allah telah menunjukan, tak ada yang pantas menerima cinta tulusmu, kecuali Dia. Berbahagialah karena diberi rasa kecewa, karna dengannya, kau tau bahwa hanya Allah yang maha sempurna. 

Maka, Kecewa itu memang penyempurna :)