Bodohnya Aku.

Bodohnya aku ketika aku selalu iri kepada orang lain. Atau… pada temanku sendiri.
Aku iri kepada mereka yang memiliki segalanya. Aku iri ketika mereka mempunyai keluarga yang rukun tanpa cekcok. Aku iri ketika melihat temanku begitu santunnya kepada orang tua mereka. Aku iri ketika mereka selalu sholat berjama'ah bersamanya ayah&ibunya di mushola rumahnya. Aku iri ketika temanku mendapatkan pacar baru yang sempurna. Aku iri untuk bisa merasakan indahnya pacaran. Aku iri ketika orang-orang selalu berebutan untuk dapat berkenalan dengan sahabatku.
Aku selalu iri. Bahkan terkadang aku ingin sekali menghalalkan segala cara untuk dapat seperti mereka. Bodohnya aku.
Keluargaku, keluarga yang bahagia. Keluargaku rukun. Dan hanya karena adanya aku dan adikku sehingga sering ada cekcok diantara kita. Lumrah kan? Dan aku iri ketika mereka dapat melaksanakan sholat berjama'ah dengan keluarganya. Kapan aku bisa seperti mereka?
Aku iri ketika melihat temanku bersikap santun kepada orang tuanya. Sedangkan aku tidak pernah. Sikapku bahkan seperti tak menghargai mereka. Dalam niat, aku selalu ingin berubah. Dalam doa, aku selalu meminta bantuan Tuhan agar membantuku untuk merubah sifat-sifat burukku.
Aku iri ketika temanku mempunyai pacar baru yang sempurna. Kapan ya aku bisa seperti mereka? dalam angan ku bicara. Bahkan aku sempat dipanggil sebagai orang ketiga karena dekat mantan temanku. Dunia seperti tak membelaku.
Aku ingin merasakan indahnya pacaran. Pernah. Bahkan bagiku teramat indah. Namun sayang, kita hanya sebentar. Dan bahkan sampai detik ini pun aku masih mengharapkannya. Amat rindu. Dapatkah aku kembali bersamanya? Tuhan aku berharap.
Aku iri ketika orang-orang selalu berebutan untuk dapat berkenalan dengan sahabatku. Sedangkan yang mereka lakukan terhadapku, mengacuhkanku. Aku hanyalah seperti kuman yang menempel di kehidupan mereka. Mereka hanya memerlukanku disaat mereka butuh saja.
Bodohnya aku, selalu berbuat baik kepada mereka yang selalu menusukku dari belakang. Bodohnya aku, selalu memaafkan kesalahan-kesalahan yang mereka buat. Bodohnya lagi, aku masih mempercayai mereka yang telah menyakitiku.
Tuhan mempunyai rencana sendiri untuk aku, sepertinya.

0 Comments